5 Error Laravel yang Paling Sering Bikin Developer Pemula Panik (dan Solusinya)
Waktu pertama kali serius ngoding Laravel, saya menghabiskan lebih banyak waktu menatap layar error merah daripada menulis fitur. Kabar baiknya: sebagian besar error itu berulang, dan begitu paham polanya, menyelesaikann
Waktu pertama kali serius ngoding Laravel, saya menghabiskan lebih banyak waktu menatap layar error merah daripada menulis fitur. Kabar baiknya: sebagian besar error itu berulang, dan begitu paham polanya, menyelesaikannya jadi cepat. Berikut 5 yang paling sering saya (dan banyak pemula) temui.
1. 419 Page Expired saat submit form
Hampir selalu soal CSRF token. Pastikan form punya @csrf, dan cek konfigurasi session (SESSION_DRIVER, domain cookie). Kalau muncul setelah idle lama, itu karena session-nya kedaluwarsa — wajar.
2. Target class does not exist
Biasanya penulisan namespace controller salah, atau lupa use. Jalankan php artisan optimize:clear setelah memperbaikinya — cache route sering menyimpan yang lama.
3. SQLSTATE[HY000] [1045] Access Denied
Kredensial database di .env tidak cocok. Perhatikan juga: setelah mengubah .env, jalankan php artisan config:clear karena Laravel meng-cache config.
4. Vite manifest not found
Muncul di production kalau aset belum di-build. Jalankan npm run build sebelum deploy, dan pastikan folder public/build ikut ter-upload.
5. laravel.log Could not be opened: Permission denied
Masalah izin folder di server. storage/ dan bootstrap/cache/ harus writable oleh web server. Ini jebakan klasik saat deploy ke shared hosting.
Kalau kamu ingin daftar solusi yang lebih lengkap beserta langkah verifikasinya, saya merangkumnya di sini: Kumpulan Solusi Error Laravel yang Paling Sering Terjadi. Khusus error 419 yang paling sering ditanya, pembahasan 7 penyebabnya ada di artikel ini.
Punya error Laravel favorit yang bikin pusing? Ceritakan di komentar 👇
Originally published by Dev.to WebDev. Aggregated on AIWithGhost for educational purposes — full credit and traffic to the original publisher.