Dev.to AI 🤖 Ai 👁 0 📖 3 min read

3 Tahun Belajar Self-Hosting: Apa yang Benar-Benar Aku Pakai (dan Yang Buang Waktu)

Catatan pengalaman pribadi — bukan tutorial. Kalau kamu sedang menimbang mulai self-hosting, ini yang kualami. Situs pribadiku: yans.ai.id. Latar belakang Aku bukan sysadmin. Aku orang yang mulai dari "pengen

3 Tahun Belajar Self-Hosting: Apa yang Benar-Benar Aku Pakai (dan Yang Buang Waktu)

Catatan pengalaman pribadi — bukan tutorial. Kalau kamu sedang menimbang mulai self-hosting, ini yang kualami. Situs pribadiku: yans.ai.id.

Latar belakang

Aku bukan sysadmin. Aku orang yang mulai dari "pengen punya alamat web sendiri" lalu jalan terus sampai sekarang: beberapa domain, beberapa Worker, satu VPS kecil, dan satu layanan publik kecil yang kupertahankan hidup-hidup (AICLUB — subdomain gratis untuk builder Indonesia).

Artikel ini bukan panduan. Ini laporan jujur setelah 3 tahun: apa yang benar-benar kepakai, dan apa yang cuma jadi proyek weekend yang ditinggal mati.

Yang benar-benar kepakai

1. Cloudflare gratis tier sebagai fondasi

Ini keputusan yang paling sering kusyukuri. DNS, Workers, Pages, KV, D1 — semuanya gratis untuk skala kecil. Aku pernah lihat orang membayar VPS + cPanel + lisensi SSL padahal use case-nya cuma landing page. Kalau statis, Pages cukup. Kalau butuh API, Worker. Kalau butuh database, D1. Belum sekali pun aku kena paywall untuk proyek pribadi.

Yang perlu diingat dari gratis tier: batas subrequest (50/invokasi). Kupelajari ini cara susah — health checker pertamaku menabrak limit karena loop tiap domain tanpa rotasi.

2. Satu VPS kecil, tidak lebih

Oracle Free Tier ARM cukup untuk semua eksperimenku: uptime monitor, bot kecil, playground. Aku pernah tergoda sewa VPS lebih besar "biar lega" — dan menyesal. Lega itu tidak kepakai kalau bebannya cuma 2% CPU. Aturanku sekarang: upgrade hanya setelah utilization stabil di atas 70%.

3. Docker Compose, bukan Kubernetes

Pernah mencoba Kubernetes untuk tiga kontainer. Waktu belajarnya tidak sepadan untuk skala itu. Docker Compose + backup rutin + Uptime Kuma = 90% manfaat dengan 10% kompleksitas. K8s masuk akal kalau kamu punya cluster nyata atau belajar untuk kerja. Untuk homelab, tidak.

4. DNS-level redirect daripada konfigurasi web server

Satu hal kecil yang mengubah cara kerjaku: banyak kasus "mau arahkan domain ke mana-mana" ternyata bukan pekerjaan web server — cukup record + redirect di edge. Ini juga yang akhirnya jadi fitur di AICLUB: banyak user cuma butuh namamu.domain → linktujuan, dan itu bukan alasan untuk sewa hosting.

5. Menulis tentang apa yang dibangun

Terdengar klise, tapi ini yang paling menentukan. Setiap kali kubangun sesuatu dan menuliskannya (README yang layak, post kecil), hasilnya: orang menemukan, orang menghubungi, kolaborasi muncul. Proyek yang tidak ditulis = tidak pernah ada, dari luar dilihat.

Yang buang waktuku

Next.js untuk semuanya

Aku sempat pakai Next.js untuk halaman yang isinya teks statis. Build time naik, deploy naik, kompleksitas naik — untuk konten yang berubah setahun sekali. Sekarang: HTML polos atau Pages untuk statis, framework hanya kalau ada interaktivitas nyata.

Self-host email

Jangan. Aku mencoba. Deliverability, SPF/DKIM/DMARC, reputasi IP — berbulan-bulan untuk hasil yang lebih buruk dari layanan email komersial. Ini satu-satunya yang kuserahkan ke pihak ketiga tanpa penyesalan.

Monitoring berlebihan

Grafana + Prometheus + alert di segala arah, untuk tiga layanan. Sekarang: Uptime Kuma + notifikasi Telegram. Kalau sesuatu penting, aku tahu dalam hitungan menit. Kalau tidak penting, tidak perlu dashboard.

Membeli domain karena "nanti kepakai"

Aku punya 5 domain yang dibeli karena ide di kepala, tidak pernah jadi. Total rugi biaya tahunan untuk apa yang akhirnya di-parkir. Sekarang aturanku: domain dibeli hanya setelah ada satu halaman live.

Yang masih aku perjuangkan

  • Backup: tahu teorinya (3-2-1), eksekusinya masih semi-manual. Ini agenda tahun ini.
  • Secrets management: masih file + disiplin, belum vault.
  • Konsistensi menulis: niatnya tiap minggu, realitasnya per bulan.

Penutup

Self-hosting itu bukan tentang menjalankan semuanya sendiri — itu tentang memahami apa yang berjalan untukmu, dan memilih sengaja mana yang diserahkan ke orang lain. Kebalikan dari FOMO infrastruktur.

Kalau kebetulan kamu di Indonesia dan baru mulai: kamu tidak harus beli domain dulu untuk punya alamat web. Ada subdomain gratis yang DNS-nya beneran bisa diarahkan ke mana saja — termasuk yang kubangun, aiclub.ai.id — atau opsi lain seperti is-a.dev. Mulai dari yang gratis, tumbuh dari situ.

Proyek dan catatan saya kumpulkan di yans.ai.id. Kalau ada pengalaman self-hosting yang menyelamatkan (atau menghancurkan) weekend-mu, bagikan di komentar — aku selalu penasaran dengan setup orang lain.

📰 Read the original article on Dev.to AI

Originally published by Dev.to AI. Aggregated on AIWithGhost for educational purposes — full credit and traffic to the original publisher.