Merapikan Bookmark: Cara Saya Menyimpan 30 Situs Tanpa Berantakan
Dulu folder bookmark saya isinya lebih dari 200 tautan. Tidak ada yang bisa ditemukan saat dibutuhkan. Setelah dirapikan, jumlahnya turun jadi 30 dan justru lebih sering dipakai. Aturan pertama: satu folder, sa
Dulu folder bookmark saya isinya lebih dari 200 tautan. Tidak ada yang bisa ditemukan saat dibutuhkan. Setelah dirapikan, jumlahnya turun jadi 30 dan justru lebih sering dipakai.
Aturan pertama: satu folder, satu tujuan
Saya hanya memakai lima folder: kerja, baca, tonton, belanja, dan arsip. Kalau ragu masuk mana, berarti tidak perlu disimpan.
Aturan kedua: hapus setelah dua minggu
Tautan yang tidak dibuka dua minggu dihapus. Kalau nanti masih butuh, pencarian akan menemukannya lagi.
Aturan ketiga: beri nama yang menjelaskan isi
Nama bawaan seperti βHomeβ tidak membantu. Ubah jadi βportal tonton - server ringanβ atau βbaca - arsip artikelβ.
Aturan keempat: simpan versi alternatif
Untuk situs yang sering maintenance, saya simpan dua alamat. Salah satunya yang saya catat cukup konsisten saat jam sibuk ada di halaman ini. Bukan yang paling cepat, tapi jarang gagal dibuka.
Aturan kelima: sinkronkan antar perangkat
Browser modern sudah punya sinkronisasi. Manfaatkan itu supaya tidak perlu menyalin tautan manual dari HP ke laptop.
Hasil setelah satu bulan
Waktu mencari turun drastis, dan saya berhenti membuka situs yang ternyata sudah tidak relevan. Bookmark bukan gudang, tapi alat kerja.
Kalau kamu punya sistem sendiri, tulis di komentar. Saya selalu tertarik melihat cara orang lain merapikan hal kecil seperti ini.
Originally published by Dev.to WebDev. Aggregated on AIWithGhost for educational purposes β full credit and traffic to the original publisher.